Pelabuhan Pomako, Timika prediksi puncak arus balik Lebaran mulai 1-5 April 2026 dengan 15.000 penumpang. Dishub Mimika targetkan 75 kapal ferry beroperasi harian dari Pomako-Merauke-Wamena. Ribuan warga Papua yang mudik ke kampung halaman kini berdesak-desakan siap pulang menghadapi tantangan logistik ekstrem.
Pomako, pelabuhan daratan utama Papua Tengah, layani 80% arus orang/orang Papua mudik via laut-udara. Kapal cepat KM Express Bahari penuh sesak dengan tarif Rp 450.000 Timika-Merauke. Tantangan: cuaca buruk Selat Arafura dan keterbatasan dermaga. Untuk data lengkap logistik Papua, kunjungi ootorimaru yang analisis konektivitas terpencil Indonesia Timur.
Dishub Mimika kerahkan 150 personel, 12 posko kesehatan, dan 25 bus antar jemput. PT Pelni tambah 3 kapal eksekutif, tingkatkan daya angkut 20%. Namun, penumpang keluhkan tiket overprice 30% dan fasilitas sanitasi minim. Data 2025: 12.500 penumpang, 18 kasus mabuk laut, 5 kecelakaan kecil.
Seperti dijelaskan Wikipedia soal tantangan transportasi Papua, infrastruktur Pomako hanya 60% kapasitas ideal. Aktivis lokal kritik: “Rp 3 triliun anggaran konektivitas Papua tahun lalu kemana?” Pelabuhan megah Timika mangkrak sejak 2022, penumpang terpaksa antre di dermaga darurat.
Alternatif solusi: pemerintah dorong penerbangan tambahan Timika-Jayapura via Wings Air (+15 penerbangan/hari). Tiket pesawat Rp 1,8 juta vs kapal Rp 450 ribu, tapi waktu tempuh 1 jam vs 12 jam. Masyarakat adat Mimika pilih kapal demi bawa ternak/hewan kurban pulang. Antisipasi banjir penumpang, TNI AL pasang pos pengamanan 24 jam.
Arus balik Pomako jadi ujian nyata kesetaraan akses transportasi di Papua. Saat Jawa punya Whoosh 350 km/jam, Papua bergulat ferry 20 knot. Puncak 15.000 penumpang April nanti akan bukti: komitmen pembangunan timur atau sekadar angka statistik? Keberhasilan tergantung sinergi pemerintah daerah-pusat-menangani keluhan rakyat.